Waktu itu Rabu, 22 Agustus 2012. Tepatnya pukul 8 malam. Ayahku baru saja datang dari warung sebelah untuk mengisi pulsa. Setelah masuk rumah Ayah langsung memberi tahuku tentang keadaan bulan malam itu. Aku yang penasaran tentang keadaan bulan yang dimaksud Ayah, cepat-cepat menghampirinya di halaman rumah. Aku memandangi bulan sabit yang tidak ada istimewanya dengan bulan sabit sebelumnya. Tampak biasa saja. Ayah memberiku cermin dan menaruhnya di telapak tanganku yang mencari-cari bayangan bulan di wajah langit.
Ayah : "Ade, coba lihat bulan di langit, sepertinya sudah bulan keempat" sambil bergantian menatap bulan di langit dan menatapi bayangan bulan itu di cermin dengan serius.
Dengan bingungnya aku mengikuti gerak mata Ayah.
Cintia: "aku tak melihat apa-apa Yah, bulan di cermin ini tidak ada bedanya dengan yang di langit, sama saja bulannya masih sedikit, membentuk sabit" jadi bingung "bulan keempat yang Ayah maksud itu seperti apa?"
Ayah kembali meyakinkan aku untuk melihat lebih teliti keadaan bulan itu melalui cermin, "Tuh lihat, bulannya sudah berbayang banyak kalau tidak salah bayangngannya sudah empat dan itu artinya 1 Syawal sudah tepat pada hari minggu, berarti lebaran kita tahun ini sudah tepat" semakin semangatnya Ayah menjelaskan, aku menjadi semakin bingung, melihat bulan yang tetap membentuk sabit, tak berbayang atau pun kelihatan banyak. Huuummm aku berpikir mungkin karena mata Ayah yang sudah termakan usia, jadi penglihatannya jadi aneh.
Melihat wajahku yang masih bingung, Ayah tidak patah semangat untuk membuat pengakuan tentang pendapatnya terhadapku. Ayah harus bisa meyakinkan tentang penglihatannya tentang bulan keempat waktu itu. Ayah masuk ke rumah, entah mencari apa, yang jelas Ayah keluar bersama selembar jilbab tipis dan spertinya itu adalah jilbab Kakakku. Ayah menghampiri di tempatku berdiri sejak tadi yang masih menatapi bulan di langit dengan mata telanjang.
Ayah : "pakai ini saja biar lebih jelas" sambil membentangkan jilbab itu di depan mataku mengarah ke tempat bulan.
Cintia: "Wahhh menakjubkan, Yah ditahan yah jangan diturunkan dulu jilbabnya, aku masih ingin melihat bayangan bulan lebih jelas dan lama, banyak sekali ya bayangannya"
Ayah : "nah, baru percaya kan, ayo coba Ade hitung ada berapa bayangan bulan itu"
Cintia: "ada banyak Yah, sepertinya ada empat"
Ayah hanya tersenyum puas dan aku tahu Ayah sangat senang. Aku kagum dengan Ayah yang bisa mengajariku ilmu yang begitu bermanfaat. sambil melihat bulan dengan selembar jilbab tipis sekali lagi, Ayah bercerita tentang pelajaran cara melihat bulan yang diajarkan saat masih bersekolah di Sekolah Rakyat. Mereka belajar Ilmu perbintangan secara langsung dengan menggunakan alat-alat sederhana namun menurutku itu sangat ilmiah. Punya bukti yang sangat kuat, tidak mengada-ngada seperti tadi waktu aku belum melihat bayangan bulan di cermin.
Iya, itu sangat nyata. Aku melihat bulan sabit itu terlihat memiliki bayangan. menurut penjelasan Ayahku, penentuan bulan pertama, ke dua, ke tiga dan seterusnya dapat dilihat melalui jumlah bayang yang terlihat di cermin atau pun di kain tipis. Tetapi penentuan bulan hanya bisa terlihat jelas hanya pada maksimal bulan kelima karena bayangannya sudah sangat banyak sehingga susah untuk dihitung.
Terima kasih Ayah untuk ilmunya, aku akan selalu mengingat, melihat dan mengajarkannya kepada siapa saja. termasuk Anda, pembaca setia tulisan-tulisanku yang mungkin hanya sedikit manfaatnya.
Kamis, 30 Agustus 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar