Mengikuti rasa rindu
pada kampung halamanku
pada ayah yang menunggu
pada ibu yang mengasihiku”
Tubuhku
tiba-tiba saja tersentak ke depan. Kedua kelopak mataku terpaksa bercerai dari
pelukannya. Yang terlihat hanyalah belakang jok mobil yang sudah sangat kumal.
Nyaris saja hidungku mencium besi pembentuk rangka kursi yang tak berbungkus
lagi. Entah berapa usia mobil tumpanganku itu. Kulepaskan earphone yang sejak tadi menyanyikan sajak-sajak yang membuatku
lupa tentang hidup. Seperti biasa “Franky Sahilatua”mengantarku pulang lewat
syairnya yang tak pernah selesai kudengarkan. Aku lupa sejak kapan aku mulai
membenci bait terakhir lagu itu. Mendengarnya seperti mantra yang akan
membawaku pulang untuk selamanya. Dan aku sangat takut.


