Pages

Mengenai Saya

Foto saya
Universitas Haluoleo adalah kampus di mana Dia Kuliah. Sejak kelulusannya di SMA N 1 Lainea tepatnya di Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara pada tahun 2008, dia langsung melanjutkan perguruan tingginya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yaitu di jurusan Bahasa dan Seni. Pasnya di Program Studi pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra Daerah. Sejak duduk di bangku SMP yaitu SMP N 1 Lainea pada tahu 2002 dia sudah hobi menulis cerpen dan puisi. Menjadi anak bungsu dari lima bersaudara ini tidak terlihat begitu manja seperti anak-anak bungsu lainnya. Ini bisa terlihat dari keaktifan dan kesungguhannya mengurus beberapa organisasi antara lain menjadi pengurus Lingkar Studi Ilmiah Penalaran (LSIP), Semai Intelektual Muda Konawe Selatan (SIM Konsel), UKKI, Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia, dan organisasi eksternal kampus lainnya. Dia sangat hobi jalan-jalan mendatangi tempat yang belum pernah dikenalnya. Dan dia sedang berencana dengan sahabatnya untuk pergi ke suatu tempat yang sangat diimpikannya sejak 2009. Masih rahasia.. hehe.. selamat membaca Blog Putri Anawaingguluri.
Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 24 Januari 2013

Kereta Malam


“dengan kereta malam kupulang sendiri
Mengikuti rasa rindu
pada kampung halamanku
pada ayah yang menunggu
pada ibu yang mengasihiku”

Tubuhku tiba-tiba saja tersentak ke depan. Kedua kelopak mataku terpaksa bercerai dari pelukannya. Yang terlihat hanyalah belakang jok mobil yang sudah sangat kumal. Nyaris saja hidungku mencium besi pembentuk rangka kursi yang tak berbungkus lagi. Entah berapa usia mobil tumpanganku itu. Kulepaskan earphone yang sejak tadi menyanyikan sajak-sajak yang membuatku lupa tentang hidup. Seperti biasa “Franky Sahilatua”mengantarku pulang lewat syairnya yang tak pernah selesai kudengarkan. Aku lupa sejak kapan aku mulai membenci bait terakhir lagu itu. Mendengarnya seperti mantra yang akan membawaku pulang untuk selamanya. Dan aku sangat takut.
Sekarang sudah sampai mana? Aku ingin memastikan melalui jendela mobil namun kuurungkan niat. Bagaimana bisa, jendela bukan dari kaca lagi. Mencoba menerawang lewat tripleks yang sisinya menyerupai renda-renda di rok para penyanyi dangdut. Dirobek lidah matahari dan tusukan-tusukan tombak bening dari langit. Malang nian nasibmu hingga di usia yang setua ini kau tetap merangkak, kau bahkan tidak terlihat lagi seperti mobil. Seperti lobster yang sedang menahan sakit saat waktunya berganti kulit. Dan aku yakin kau tak akan pernah bisa bermetamorfosis menjadi kuda terbang. Kereta. Nama yang pantas untukmu.
Ternyata kereta butut itu berhasil membawaku pulang. Pulang ke tempat asalku. Bau malam mulai menyesaki hidung. Tapi aku tak merasakan hawa khas desaku yang dingin seperti saat terakhir aku menyapanya. Lampu keretaku mulai redup di kejauhan, lagu mesinnya pun mulai hilang. Meninggalkanku yang masih sendiri mematung di samping jalan. Kakiku terasa sangat berat. Langit desaku tak sehangat kemarin, seperti menua. Padahal baru dua pekan aku meninggalkannya. Ada rasa kecewa bersarang di hatiku. “malam ini aku tak bisa melihatnya.”
Satu, dua, tiga, empat... akar beton penanda kilometer jalan masih terbaring di tempatnya sejak kecelakaan hari itu. Mobil yang menabraknya sedikit pun tak punya niat untuk menolongnya berdiri. Seakan dia hanya menunggu ibunya untuk menanamnya kembali. Badannya yang terpisah hampir satu meter masih bersih tertulis angka “45 Km lepo2”yang artinya, tepat depan rumahku berjarak 45 kilometer hingga Lepo-lepo pinggiran kota Kendari. Itulah salah satu yang menjadi tanda ketika ada kawan yang menanyakan alamatku, meski dia tak setegak dulu.
Lima, enam, tujuh. Ada yang hilang. Pohon ketapang, kursi, bantal, dan senyum tulus dengan gigi seri yang sudah tanggal. Untuk kesekian kalinya aku masih berharap ada yang menungguku. Delapan dan langkahku pun terhenti di hitungan ke sembilan. Aroma sedap malam lebih dulu membiusku untuk tidak melangkah lagi. Aku hanya berdiri menikmati bau bunga taman peliharaan papa, seakan sakaw yang menggerogoti tubuhku. Kutarik napas besar dan kubiarkan mengalir lembut di dadaku, membiarkannya mengisi kekosongan di jiwaku. Tinggallah di sana bersama bau bunga. Bunga kerinduan pada sosok sahabat sejati.
Lamunanku meloncat dari kepalaku dan pergi tanpa menyisakan sedikit bekas. Mereka kaget melihat seseorang membuka pintu. Wajah penuh dengan garis-garis yang seakan bercerita, betapa keras dan lamanya hidup yang dilewatinya. Langkah ke sepuluh maju dengan sendirinya. Seperti biasa langsung meraih tangan kasar yang selalu kuciumi punggungnya tiap kali bertemu dengannya. Aku memeluknya dan dia balik mencium pipiku dengan kumisnya yang juga mulai berganti warna. Namun, apakah itu nyata? Aku tak bisa melakukan itu lagi. “Mengapa aku tak bisa?”aku tak mau dikatakan anak yang tak berbakti, anak yang tak menghormati orang tua, apalagi pada papa. Tapi aku harus bagaimana, tubuhku tak mau lagi diperintah oleh otakku. Aku benci pada sikapku. Ingin mengutuk diri sendiri saja menjadi beton yang menggantikan kilometer jalan yang terbaring di depan rumahku.
Papa tak melihatku sama sekali. Jangankan menyapa, menoleh padaku pun tidak. “Ya Allah, papa marah padaku, pada sikapku, pada caraku dan semuanya”. Aku takut papa sakit hati padaku yang kini berubah. Papa hanya memandang ke luar rumah, seperti ada sesorang yang ditunggunya sejak tadi, tapi tak mendapati apapun. Napasnya yang panjang bisa kudengar dengan irama kecewa. Kutahu papa juga mencium bunga peliharaannya, tapi papa tak menikmatinya seperti aku. Aku semakin sedih melihat itu. Papa kembali menutup pintu, menguncinya dan menarik kain horden agar menyelimuti jendela. Papa kembali dingin, dingin seperti langit mala mini yang merindukan hangatnva matahari. Mulutnya masih sepi dengan kata, seakan kalimat tak rela jika keluar dari sana. Aku menjadi takut jika sikap itu muncul lagi. Tak pernah berubah semenjak aku mengenalnya dari kecil. Orang yang sangat kusegani dan kuhormati kini kukecewakan. Kubiarkan suasana diam itu berlalu di ruang tamu dan berharap di ruang selanjutnya tidak lagi.
Ruang tamu. Ada banyak jejeran bingkai yang menempel di dindingnya yang robek-robek digigit rayap. Gambar mama, gambar mama dan papa, gambar anak-anak mereka yang berjumlah lima orang dan berharap di sana juga akan segera ada gambarku lengkap dengan toga. Aku akan cepat memajangnya di sana, secepat senyumku yang mulai memenuhi wajahku. “Hahhh... aku ingin langsung memberi tahu papa, tapi bagaimana caranya?”senyum itu buru-buru lari dari wajahku, “papa kan masih dingin padaku.”
Sebelas, dua belas, tiga belas. Langkahku tertumbuk pada loyang berisi air berwarna teh muda dan sedikit ampas kasar. Di sudut 40 derajat pun ada loyang kumal yang pinggirnya meleleh bekas terbakar dengan isi yang sama. Teh muda dengan ampas kasar. Kursi sudut yang warnanya tak kukenal lagi kini terkena penyakit kulit akut. Tak berbentuk lagi dan tersisa tinggal tiga. Mungkin yang duanya berada di ruangan lain . Teringat waktu 5 tahun yang lalu saat lebaran haji. Aku masih ingat betul. Kursi itu diduduki oleh semua anggota keluarga rumah ini selain itu juga ada bibi, nenek, dan kedua sepupuku. Hingga saat ini aku masih merasakan hangatnya kebersamaan itu. Bercanda tentang kekurangan anak-anak mama, nostalgia tentang kenakalan anak-anak nenek, saling menunjuk siapa yang lebih dahulu menikah dan yang masih bisa terlihat sekarang adalah rekaman saat perkenalan nama masing-masing. Sungguh, kursi itu menyimpan cerita indah.
Empat belas, lima belas. Kilat dan Guntur mulai bertengkar, berebutan menjilati bumi. Atap rumahku mulai bersenandung tanpa ritme yang jelas. Aku tak peduli. Enam belas, tujuh belas. Papa agak terburu-buru membagi-bagi loyang dan ember di atas lantai. Masih saja tak memperdulikan keberadaanku di sana. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti kebisuan itu. Aku berharap papa meminta bantuanku. Delapan belas. Angin mulai menyusup di celah papan dinding rumahku, meniup horden, meniup taplak meja, dan meniup jilbabku hingga menyentuk hatiku yang kian perih melihat semua itu. Sembilan belas. Semakin lama angin semakin kencang. Dua puluh, dua puluh satu. Tombak-tombak bening pun akhirnya tak dapat disangga oleh langit yang menua, jatuh menusuk atap rumahku hingga bocor. Yang menjadi alasan mengapa papa membagi-bagi apapun barang dapur yang bisa menjadi tameng. Berharap lantai rumahku tidak menjadi sumur tadah hujan. Dua puluh dua. papa terlihat panik dengan bibir komat-kamit tak jelas apa yang diucapkannya dan sejadah di tangan kanannya sambil mengibas-ngibaskan keluar jendela. Tak heran lagi melihat adegan papa. Sepertinya hitungan langkahku akan sampai pada angka dua puluh tiga saja.
Aku ingin menghitung jumlah loyang dan ember yang tersebar di setiap sudut rumahku. Tapi kuurungkan niat, takut membuat papa jadi sedih dan semakin membuatnya marah padaku. Kurebahkan badanku ke sambungan kursi sudut yang di ruang tamu. Dengan penyakit yang sama, bahkan lebih parah lagi, busanya telah habis, yang tersisa tinggal anyaman tali yang terbuat dari irisan ban bekas. Ini tidak membuatku nyaman. Terasa sakit di punggung. Tapi apa boleh buat tidak ada lagi tempat yang lebih bagus untuk melepas rasa lelah selain tempat tidur. Aku belum mau menjenguk kamarku. Ingin aku menceritakan perjalan pulang saat melihat monyet di pohon samping jalan. Menceritakan tentang ujian yang mengerikan, tentang mantanku yang tak bisa kutebak isi hatinya. Tentang semuanya yang aku alami di kota. Seperti saat pertama aku mengenal cinta dan saat pertama aku merasa kecewa pada cinta. Dan itu hanya aku cerita pada mama. Tapi kali kini aku ingin bercerita kepada seseorang yang sedang sibuk mengurusi angin, petir, guntur dan tombak-tombak bening dari langit.
Lenganku terasa dingin, menyadari itu ketika lengan bajuku basah. Aku tak bisa menghindari tombak bening yang dari tadi diusir oleh papa. Ternyata aku sempat terlelap beberapa menit. Ketika itu pula sosok yang tidak begitu kurindukan, meskipun awal kedatanganku tadi aku mencari sosoknya, kini berada di sisiku. Memberiku senyuman, memelukku dan menciumku. Awal dari rinduku terobati, setelah 2 tahun lebih tak bertemu dengannya. Aku begitu bahagia ketika bertemu dengannya dalam keadaan sehat. Kugenggan tangannya yang membuat hatiku dingin dan teduh. Mulutku sedikit berbisik “Mama, mulai saat ini kita takkan pernah terpisah lagi, aku takkan pulang ke kota lagi, takkan meninggalkan Mama lagi, aku akan tinggal di sisi Mama selamanya,”mama hanya tersenyum dan biji air mencair di sudut matanya.
Kami begitu khitmat menikmati pertemuan itu. Tanpa peduli lagi kepada papa yang mulai menghentikan ritualnya dan membenahi alat-alat dapur yang hampir setengah terisi air tombak yang menjadi teh pekat rasa rumbia. Aku masih saja dalam pelukan mama, aku tak mau lepas dari sana. Sambil mengintip purnama yang mulai tersenyum lewat bintang-bintang yang hampir memenuhi langit-langit rumahku.
Hingga terlelap, papa belum juga menggubris kedatanganku. Aku bergegas mendekati kelambu abu-abu yang menggantung di ranjangnya. Tubuh tuanya terbaring di dalam sana dan sibuk dengan alam mimpinya. Napasnya terlihat lelah, dengan bunyi dengkur yang tak berubah. Biasanya aku selalu membangunkannya dan menyuruh membalik tubuhnya agar tidak mendengkur. Tapi kali ini, meski di dalam tidurnya papa masih terlihat dingin padaku. Tidak peduli pada sapaanku. Kusentuh bahunya, masih terasa hangat seperti dulu. “Papa, lusa aku akan diwisuda, bukankah itu yang selalu papa tanyakan,” kuseka biji air yang pecah dipipiku, “aku tahu, Papa menunggu saat-saat membahagiakan itu kan? Papa ingin mendampingiku saat memakai toga kan? Tapi mengapa saat ini Papa tidak mau bicara satu kata pun?”
Seandainya dia tahu, aku ingin sekali bercerita dengannya. Dan ingin dipeluk olehnya. Saat ini aku merasa dingin. Sangat kedinginan. Akupun terlelap di samping papa sambil memeluk kebisuannya. Mama masih saja tersenyum melihat kami. “Selamat malam Mama, selamat bermimpi Papa,” Berharap besok kau terbagun dengan cerita-cerita di mimpimu.
***
Hari wisuda. Senin, 24 Juni 2013.
“Tifani Melanda. IPK 3,62. Lama studi 4 tahun 7 bulan...”  
Tepuk tangan riuh memenuhi ruang auditorium. Tanpa kecuali, semua orang yang pernah menduduki kursi ruang tamu ikut bertepuk tangan. Beberapa menit kemudian suasana itu berubah menjadi sayu mengharukan. Biji air pecah, berserakan di mana-mana. Kawan, teman, sahabat, junior, senior, bahkan dosen datang silih berganti menyalami papa. Mereka turut merasakan apa yang menderu hati papa saat ini. Langit begitu cerah. Namun hati papa kini sibuk dengan biji-biji air dari matanya. Mulutnya masih tak bisa berkata.
Tiba-tiba seseorang yang datang mendekati papa. Dia membawa map bergambar songket khas Kendari berlogo kampus, medali, baju dan topi toga. Sedikit terisak dia bercerita, “Waktu itu pertama dan terakhir kalinya dia memintaku mengantarnya ke terminal. hatinya buru-buru pulang, ingin memberi sureprice dan membawa berita bahagia. Tapi ternyata dia tidak pernah sampai ke rumah. Keretanya tak berhasil membawanya untuk sekadar menyatakan hal bahagia itu ke Bapak. Dia telah pergi meninggalkan kita, tanpa memakai toganya terlebih duhulu, tanpa foto bersama. Padahal dulu dialah yang paling sibuk foto-foto saat ada teman yang memakai toga. Dan yang paling menyedihkan dia pergi meninggalkan hati yang selalu diragu-ragukan ketulusan cintanya,” sambil menyodorkan foto Tifani bersama rektor dan dekan, dia pun meninggalkan papa.
Sambil mengelus foto itu papa membatin,“di usianya yang baru 23 tahun, Tifani pergi meninggalkan kebisuanku.”





separador

0 komentar:

Posting Komentar

Followers