Mengikuti rasa rindu
pada kampung halamanku
pada ayah yang menunggu
pada ibu yang mengasihiku”
Tubuhku
tiba-tiba saja tersentak ke depan. Kedua kelopak mataku terpaksa bercerai dari
pelukannya. Yang terlihat hanyalah belakang jok mobil yang sudah sangat kumal.
Nyaris saja hidungku mencium besi pembentuk rangka kursi yang tak berbungkus
lagi. Entah berapa usia mobil tumpanganku itu. Kulepaskan earphone yang sejak tadi menyanyikan sajak-sajak yang membuatku
lupa tentang hidup. Seperti biasa “Franky Sahilatua”mengantarku pulang lewat
syairnya yang tak pernah selesai kudengarkan. Aku lupa sejak kapan aku mulai
membenci bait terakhir lagu itu. Mendengarnya seperti mantra yang akan
membawaku pulang untuk selamanya. Dan aku sangat takut.
Sekarang sudah
sampai mana? Aku ingin memastikan melalui jendela mobil namun kuurungkan niat.
Bagaimana bisa, jendela bukan dari kaca lagi. Mencoba menerawang lewat tripleks
yang sisinya menyerupai renda-renda di rok para penyanyi dangdut. Dirobek lidah
matahari dan tusukan-tusukan tombak bening dari langit. Malang nian nasibmu
hingga di usia yang setua ini kau tetap merangkak, kau bahkan tidak terlihat
lagi seperti mobil. Seperti lobster yang sedang menahan sakit saat waktunya
berganti kulit. Dan aku yakin kau tak akan pernah bisa bermetamorfosis menjadi
kuda terbang. Kereta. Nama yang pantas untukmu.
Ternyata kereta
butut itu berhasil membawaku pulang. Pulang ke tempat asalku. Bau malam mulai menyesaki
hidung. Tapi aku tak merasakan hawa khas desaku yang dingin seperti saat
terakhir aku menyapanya. Lampu keretaku mulai redup di kejauhan, lagu mesinnya pun
mulai hilang. Meninggalkanku yang masih sendiri mematung di samping jalan.
Kakiku terasa sangat berat. Langit desaku tak sehangat kemarin, seperti menua.
Padahal baru dua pekan aku meninggalkannya. Ada rasa kecewa bersarang di hatiku.
“malam ini aku tak bisa melihatnya.”
Satu, dua,
tiga, empat... akar beton penanda kilometer jalan masih terbaring di tempatnya
sejak kecelakaan hari itu. Mobil yang menabraknya sedikit pun tak punya niat
untuk menolongnya berdiri. Seakan dia hanya menunggu ibunya untuk menanamnya
kembali. Badannya yang terpisah hampir satu meter masih bersih tertulis angka “45
Km lepo2”yang artinya, tepat depan rumahku berjarak 45 kilometer hingga Lepo-lepo
pinggiran kota Kendari. Itulah salah satu yang menjadi tanda ketika ada kawan
yang menanyakan alamatku, meski dia tak setegak dulu.
Lima, enam,
tujuh. Ada yang hilang. Pohon ketapang, kursi, bantal, dan senyum tulus dengan
gigi seri yang sudah tanggal. Untuk kesekian kalinya aku masih berharap ada
yang menungguku. Delapan dan langkahku pun terhenti di hitungan ke sembilan.
Aroma sedap malam lebih dulu membiusku untuk tidak melangkah lagi. Aku hanya
berdiri menikmati bau bunga taman peliharaan papa, seakan sakaw yang
menggerogoti tubuhku. Kutarik napas besar dan kubiarkan mengalir lembut di
dadaku, membiarkannya mengisi kekosongan di jiwaku. Tinggallah di sana bersama
bau bunga. Bunga kerinduan pada sosok sahabat sejati.
Lamunanku
meloncat dari kepalaku dan pergi tanpa menyisakan sedikit bekas. Mereka kaget
melihat seseorang membuka pintu. Wajah penuh dengan garis-garis yang seakan
bercerita, betapa keras dan lamanya hidup yang dilewatinya. Langkah ke sepuluh
maju dengan sendirinya. Seperti biasa langsung meraih tangan kasar yang selalu
kuciumi punggungnya tiap kali bertemu dengannya. Aku memeluknya dan dia balik mencium
pipiku dengan kumisnya yang juga mulai berganti warna. Namun, apakah itu nyata?
Aku tak bisa melakukan itu lagi. “Mengapa aku tak bisa?”aku tak mau dikatakan
anak yang tak berbakti, anak yang tak menghormati orang tua, apalagi pada papa.
Tapi aku harus bagaimana, tubuhku tak mau lagi diperintah oleh otakku. Aku
benci pada sikapku. Ingin mengutuk diri sendiri saja menjadi beton yang
menggantikan kilometer jalan yang terbaring di depan rumahku.
Papa tak
melihatku sama sekali. Jangankan menyapa, menoleh padaku pun tidak. “Ya Allah, papa
marah padaku, pada sikapku, pada caraku dan semuanya”. Aku takut papa sakit
hati padaku yang kini berubah. Papa hanya memandang ke luar rumah, seperti ada
sesorang yang ditunggunya sejak tadi, tapi tak mendapati apapun. Napasnya yang
panjang bisa kudengar dengan irama kecewa. Kutahu papa juga mencium bunga
peliharaannya, tapi papa tak menikmatinya seperti aku. Aku semakin sedih
melihat itu. Papa kembali menutup pintu, menguncinya dan menarik kain horden
agar menyelimuti jendela. Papa kembali dingin, dingin seperti langit mala mini yang
merindukan hangatnva matahari. Mulutnya masih sepi dengan kata, seakan kalimat
tak rela jika keluar dari sana. Aku menjadi takut jika sikap itu muncul lagi. Tak
pernah berubah semenjak aku mengenalnya dari kecil. Orang yang sangat kusegani
dan kuhormati kini kukecewakan. Kubiarkan suasana diam itu berlalu di ruang
tamu dan berharap di ruang selanjutnya tidak lagi.
Ruang tamu. Ada
banyak jejeran bingkai yang menempel di dindingnya yang robek-robek digigit
rayap. Gambar mama, gambar mama dan papa, gambar anak-anak mereka yang
berjumlah lima orang dan berharap di sana juga akan segera ada gambarku lengkap
dengan toga. Aku akan cepat memajangnya di sana, secepat senyumku yang mulai
memenuhi wajahku. “Hahhh... aku ingin langsung memberi tahu papa, tapi
bagaimana caranya?”senyum itu buru-buru lari dari wajahku, “papa kan masih
dingin padaku.”
Sebelas, dua
belas, tiga belas. Langkahku tertumbuk pada loyang berisi air berwarna teh muda
dan sedikit ampas kasar. Di sudut 40 derajat pun ada loyang kumal yang
pinggirnya meleleh bekas terbakar dengan isi yang sama. Teh muda dengan ampas
kasar. Kursi sudut yang warnanya tak kukenal lagi kini terkena penyakit kulit
akut. Tak berbentuk lagi dan tersisa tinggal tiga. Mungkin yang duanya berada
di ruangan lain . Teringat waktu 5 tahun yang lalu saat lebaran haji. Aku masih
ingat betul. Kursi itu diduduki oleh semua anggota keluarga rumah ini selain
itu juga ada bibi, nenek, dan kedua sepupuku. Hingga saat ini aku masih
merasakan hangatnya kebersamaan itu. Bercanda tentang kekurangan anak-anak mama,
nostalgia tentang kenakalan anak-anak nenek, saling menunjuk siapa yang lebih
dahulu menikah dan yang masih bisa terlihat sekarang adalah rekaman saat
perkenalan nama masing-masing. Sungguh, kursi itu menyimpan cerita indah.
Empat belas,
lima belas. Kilat dan Guntur mulai bertengkar, berebutan menjilati bumi. Atap
rumahku mulai bersenandung tanpa ritme yang jelas. Aku tak peduli. Enam belas,
tujuh belas. Papa agak terburu-buru membagi-bagi loyang dan ember di atas
lantai. Masih saja tak memperdulikan keberadaanku di sana. Aku tak bisa berbuat
apa-apa selain mengikuti kebisuan itu. Aku berharap papa meminta bantuanku.
Delapan belas. Angin mulai menyusup di celah papan dinding rumahku, meniup
horden, meniup taplak meja, dan meniup jilbabku hingga menyentuk hatiku yang
kian perih melihat semua itu. Sembilan belas. Semakin lama angin semakin
kencang. Dua puluh, dua puluh satu. Tombak-tombak bening pun akhirnya tak dapat
disangga oleh langit yang menua, jatuh menusuk atap rumahku hingga bocor. Yang
menjadi alasan mengapa papa membagi-bagi apapun barang dapur yang bisa menjadi
tameng. Berharap lantai rumahku tidak menjadi sumur tadah hujan. Dua puluh dua.
papa terlihat panik dengan bibir komat-kamit tak jelas apa yang diucapkannya
dan sejadah di tangan kanannya sambil mengibas-ngibaskan keluar jendela. Tak
heran lagi melihat adegan papa. Sepertinya hitungan langkahku akan sampai pada
angka dua puluh tiga saja.
Aku ingin
menghitung jumlah loyang dan ember yang tersebar di setiap sudut rumahku. Tapi
kuurungkan niat, takut membuat papa jadi sedih dan semakin membuatnya marah
padaku. Kurebahkan badanku ke sambungan kursi sudut yang di ruang tamu. Dengan
penyakit yang sama, bahkan lebih parah lagi, busanya telah habis, yang tersisa
tinggal anyaman tali yang terbuat dari irisan ban bekas. Ini tidak membuatku
nyaman. Terasa sakit di punggung. Tapi apa boleh buat tidak ada lagi tempat
yang lebih bagus untuk melepas rasa lelah selain tempat tidur. Aku belum mau
menjenguk kamarku. Ingin aku menceritakan perjalan pulang saat melihat monyet di
pohon samping jalan. Menceritakan tentang ujian yang mengerikan, tentang
mantanku yang tak bisa kutebak isi hatinya. Tentang semuanya yang aku alami di
kota. Seperti saat pertama aku mengenal cinta dan saat pertama aku merasa
kecewa pada cinta. Dan itu hanya aku cerita pada mama. Tapi kali kini aku ingin
bercerita kepada seseorang yang sedang sibuk mengurusi angin, petir, guntur dan
tombak-tombak bening dari langit.
Lenganku terasa
dingin, menyadari itu ketika lengan bajuku basah. Aku tak bisa menghindari
tombak bening yang dari tadi diusir oleh papa. Ternyata aku sempat terlelap
beberapa menit. Ketika itu pula sosok yang tidak begitu kurindukan, meskipun
awal kedatanganku tadi aku mencari sosoknya, kini berada di sisiku. Memberiku
senyuman, memelukku dan menciumku. Awal dari rinduku terobati, setelah 2 tahun
lebih tak bertemu dengannya. Aku begitu bahagia ketika bertemu dengannya dalam
keadaan sehat. Kugenggan tangannya yang membuat hatiku dingin dan teduh. Mulutku
sedikit berbisik “Mama, mulai saat ini kita takkan pernah terpisah lagi, aku
takkan pulang ke kota lagi, takkan meninggalkan Mama lagi, aku akan tinggal di
sisi Mama selamanya,”mama hanya tersenyum dan biji air mencair di sudut
matanya.
Kami begitu
khitmat menikmati pertemuan itu. Tanpa peduli lagi kepada papa yang mulai
menghentikan ritualnya dan membenahi alat-alat dapur yang hampir setengah
terisi air tombak yang menjadi teh pekat rasa rumbia. Aku masih saja dalam
pelukan mama, aku tak mau lepas dari sana. Sambil mengintip purnama yang mulai
tersenyum lewat bintang-bintang yang hampir memenuhi langit-langit rumahku.
Hingga terlelap,
papa belum juga menggubris kedatanganku. Aku bergegas mendekati kelambu abu-abu
yang menggantung di ranjangnya. Tubuh tuanya terbaring di dalam sana dan sibuk
dengan alam mimpinya. Napasnya terlihat lelah, dengan bunyi dengkur yang tak
berubah. Biasanya aku selalu membangunkannya dan menyuruh membalik tubuhnya
agar tidak mendengkur. Tapi kali ini, meski di dalam tidurnya papa masih
terlihat dingin padaku. Tidak peduli pada sapaanku. Kusentuh bahunya, masih
terasa hangat seperti dulu. “Papa, lusa aku akan diwisuda, bukankah itu yang
selalu papa tanyakan,” kuseka biji air yang pecah dipipiku, “aku tahu, Papa
menunggu saat-saat membahagiakan itu kan? Papa ingin mendampingiku saat memakai
toga kan? Tapi mengapa saat ini Papa tidak mau bicara satu kata pun?”
Seandainya dia
tahu, aku ingin sekali bercerita dengannya. Dan ingin dipeluk olehnya. Saat ini
aku merasa dingin. Sangat kedinginan. Akupun terlelap di samping papa sambil
memeluk kebisuannya. Mama masih saja tersenyum melihat kami. “Selamat malam Mama,
selamat bermimpi Papa,” Berharap besok kau terbagun dengan cerita-cerita di
mimpimu.
***
Hari wisuda.
Senin, 24 Juni 2013.
“Tifani Melanda. IPK 3,62. Lama studi 4 tahun 7
bulan...”
Tepuk tangan
riuh memenuhi ruang auditorium. Tanpa kecuali, semua orang yang pernah
menduduki kursi ruang tamu ikut bertepuk tangan. Beberapa menit kemudian suasana
itu berubah menjadi sayu mengharukan. Biji air pecah, berserakan di mana-mana. Kawan,
teman, sahabat, junior, senior, bahkan dosen datang silih berganti menyalami papa.
Mereka turut merasakan apa yang menderu hati papa saat ini. Langit begitu
cerah. Namun hati papa kini sibuk dengan biji-biji air dari matanya. Mulutnya
masih tak bisa berkata.
Tiba-tiba
seseorang yang datang mendekati papa. Dia membawa map bergambar songket khas
Kendari berlogo kampus, medali, baju dan topi toga. Sedikit terisak dia
bercerita, “Waktu itu pertama dan terakhir kalinya dia memintaku mengantarnya
ke terminal. hatinya buru-buru pulang, ingin memberi sureprice dan membawa berita bahagia. Tapi ternyata dia tidak pernah
sampai ke rumah. Keretanya tak berhasil membawanya untuk sekadar menyatakan hal
bahagia itu ke Bapak. Dia telah pergi meninggalkan kita, tanpa memakai toganya terlebih
duhulu, tanpa foto bersama. Padahal dulu dialah yang paling sibuk foto-foto
saat ada teman yang memakai toga. Dan yang paling menyedihkan dia pergi
meninggalkan hati yang selalu diragu-ragukan ketulusan cintanya,” sambil
menyodorkan foto Tifani bersama rektor dan dekan, dia pun meninggalkan papa.
Sambil mengelus
foto itu papa membatin,“di usianya yang baru 23 tahun, Tifani pergi
meninggalkan kebisuanku.”



0 komentar:
Posting Komentar