Kamis, 2 Mei
20I3. Waktu itu adalah titik jenuh dari segala kelelahanku untuk menjadi
seorang ‘Pemaaf’. Sejak lima tahun yang lalu aku berusaha mengikuti nasehat
dari seseorang untuk belajar memaafkan. Ya, aku menghilangkan semua egoku untuk
menjadi seperti yang dia inginkan. Akhirnya aku menjadi manusia pemaaf yang
semakin lama dianggap semakin tidak berguna, rendah, dan seseorang yang tidak
pantas dipertimbangkan persaannya. Walaupun begitu, aku masih ingin menjadi
orang yang seperti itu. “Memaafkan adalah memberi sedikit ruang pada rasa
benci”, kalimat inilah yang menjadi motivasi untuk tidak menyesali perubahan
sifatku.
Awalnya itu
sangat berat. Aku yang notabenenya manusia pendendam kini menjadi manusia
pemendam rasa sakit yang tak punya ujung. Selalu dan selalu. Mungkin sampai aku
tak lagi di bumi ini kata ‘maafkan aku’akan tertuju meski itu di atas nisanku.
Perih, sungguh.
Aku pikir itu
akan semakin menguatkanku, tapi sesungguhnya itu malah menjatuhkanku bahkan
bisa membunuhku. Pertanyaan yang paling aku sesali adalah “Mengapa orang yang
melakukan itu adalah kamu?”mengapa bukan orang lain saja, biar marahku
beralasan. Aku menjadi orang penyedih ketika itu berulang dan pada orang yang
sama. Kamu. Bukan orang lain.
Kamu mengatakan
waktu itu adalah kesalahan ke dua, tetapi bagiku itu adalah ke tiga kalinya.
Kamu bahkan melupakannya dan aku semakin sakit. Jika kamu melupakannya, atau
sengaja lupa, atau memang benar-benar lupa aku akan dengar sabar
mengingatkanmu.
Ingatkan waktu
kita berkunjung ke rumah kawan kita dalam rangka acara wisuda di sekitaran
Benu-benua. Waktu itu kita janjian akan pergi bersama-sama. Kamu menyuruhku
untuk naik mobil lebih dulu dan menjemputmu di depan lorong. Dengan senang hati
aku melakukan instruksimu. Setelah tiba di depan lorong sosok yang akan
kejemput tidak ada. Aku ingin menghentikan mobil dan bergegas menemuimu di
kamar tapi kamu malah sms bahwa kamu dan teman-temanmu masih di kamar salah
satu orang yang kamu sebut sahabat menunggu salah satu teman yang belum datang.
Kamu tidak bisa meninggalkannya karena dia tidak mengetahui rumah tujuan kita.
Waktu itu aku punya uang sewa hanya cukup untuk dua kali naik mobil. Pulang dan
pergi. Akhirnya niatkan untuk langsung menuju rumah kawan yang punya acara,
meskipun aku tidak begitu ingat alamatnya karena baru I kali aku ke rumahnya,
tapi apa boleh buat, aku akan berusaha mengingat.
Sepangjang
perjalanan aku berpikir. Aku tidak boleh sedih, tidak boleh marah, apalagi
tidak memaafkan. Di antara teman-teman itu hanya akulah yang beda sendiri. Aku
bukanlah teman sekelas mereka. Aku hanya teman angkatan yang mengemis untuk
masuk dalam persahabatan mereka. Mungkin seperti itulah posisiku. Siapa aku? Tak
apalah, aku tetap teman mereka. Dengan bermodalkan HP akhirnya aku pun sampai
di rumah itu, sedikit terhibur ketika aku berusaha bercanda dengan kawanku,
berpura-pura lucu dengan diriku yang jalan sendiri. Karena aku adalah seorang
pemaaf maka aksi mendiamkan orang tak aku lakukan pada kamu waktu itu. Aku
hanya senyum. Waktu itu aku pulang lebih awal dengan alasan berangkat ke
Unaaha, padahal aku memang ingin pulang sendiri. Kamu mungkin menganggap itu
hal sepele, hanya bermodalkan kata ‘maaf’dan beberapa penjelasan yang
mengibakan di wajahmu. Bagi aku itu luar biasa kutahan. Karena aku bukan bagian
dari kalian.
Aku pikir
berakhir sampai di situ saja. Aku ingin melupakan semua itu. Aku tak pernah
menyangka itu terjadi. Waktu itu kamu mengajakku untuk ke kebi minum es teller.
Kita janjian jalan bersama-sama langsung dari kampus. Tapi mendadak beberapa
teman pulang ke kemar untuk istirahat, ganti baju, dan kesibukan lainnya. Kamu
juga seperti itu. Yang tersisa tinggal aku dan 2 orang kawan laki-laki ang
berada di kampus. 2 kawan itu pergi dengan menggunakan motor, karena aku tidak
mungkin jalan dengan mereka maka aku berniat ke kemarmu agar sama-sama naik
mobil. Karena kamu sudah siap untuk jalan maka saat itu pula kamu mengsms aku
untuk segera mengambil mobil dan menjemputmu di depan lorong. Aku pun bergegas
pamitan kepada mereka berdua, aku tidak sempat berbicara banyak karena takut
mereka menunggu lama, terlebih lagi matahari sangat terik. Aku sudah keluar
gerbang dan mengsms kamu tapi kamu tidak menggubris. Aku mengganggap kalian
sedang menungguku. Sekitar I0 meter mataku sibuk mencari sosok kalian tapi
hingga depan lorong tak satupun orang di sana. Aku meminta supir mobil untuk
menhentikan mobil. Aku menelpon kamu. “kita masih tunggu X masih pakaian, kita
lagi di lorongnya, bagaimanami?”kata-kata itu seperti meninju jantungku. Aku
hanya bertanya berapa lama lagi dank au menjawab tidak tahu, sambil menggerutu
pada X. aku mematikan telpon dan menyuruh supir melanjutkan perjalanan.
Sepanjang jalan jantungku berdetak kencang, sakit sekali. Mual dan mataku
panas. Aku mencari-cari sesuatu di dalam tasku tapi aku tidak menemukan apa
yang kucari, aku tidak tahu apa yang kucari. Air mataku jatuh tanpa kusadari.
Cepat-cepat kuseka air itu agar tak terlihat penumpang lain. Aku menarik nafas
untuk menenagkan pikiranku. Air mataku jatuh tak beralasan. Aku harus marah
pada siapa? Hal yang bisa ku lakukan saat itu adalah mengetik sms “Z jengkel
deh”dan aku mengirimnya ke pada kawan yang lain. Aku berharap ada sms minta
maafmu. Tapi tak ada. aku merasa sendiri di atas mobil itu, ada orang di jalan,
seakan bumi ini hanya ada aku Sendiri.
Semakin dekat
kebi aku semakin mual, denyut jantungku belum stabil. Dia meronta ingin pecah.
Tapi aku tidak mengizinkannya waktu itu. Ketika tiba di kebi aku di sambut
dengan teman-teman yang sudah ada di sana. Aku senyum. Aku mencari tempat yang
nyaman untuk menhentikan amukan jantungku, aku hampir muntah, tapi karena aku
belum makan apa-apa jadi tak ada yang bisa keluar. Aku meminta tolong pada
salah satu kawan untuk membelikanku air minum. Di tengah-tengah canda
teman-teman aku semakin sedih. Kuteguk air itu dan memaksa air itu kumuntahkan
tapi tidak bisa. Tiba-tiba kawan yang kukirimi sms bertanya “kamu jengkel sama
siapa?”aku tak menjawab. Aku tidak duduk satu meja dengan mereka.mungkin mereka
tahu aku sedang tidak mood, jadi gak ada yang menggubrisku selama beberapa
waktu. Aku duduk dengan pikiranku yang melayang-layang. Jantungku masih sakit.
Mataku tertuju pad ataman teratai kebi yang dipenuhi bunga-bunga, aku berharap
itu bisa menghibur. Tapi itu malah membuatku semakin marah. Kamu dan
kawan-kawan gengmu ada di sana sedang foto-foto, tertawa, gembira. Tak ada raut
wajah bersalah. Semuanya alami senangnya. Tidak sealami senyumku untuk
teman-teman di meja sebelah. Aku menatap wajahmu dalam-dalam, aku mencari
persahabatan di sana tapi aku semakin ingin menelanmu hidup-hidup, terlebih
lagi kamu sama sekali tidak melihatku. Aku tidak sanggup melihat itu semua. Aku
harus pulang. Aku tidak yakin bisa bertahan di sana, mungkin tangisku yang
pecah atau mungkin aku pinsan, karena penglihatanku mulai menghitam, jantungku
tidak berhenti menendang dakaku. Itu sangat sakit kurasakan. Dengan alasan
sakit aku pamit pulang tapa bertemu kamu dan teman-temanmu. Sepanjang jalan
pulang kamu meneleponku tapi aku lagi ingin tenang. Aku mengabaikan teleponmu
yang hampir I0 kali. Lagi-lagi aku menjadi manusia pemaaf. Aku anggap ini tidak
di sengaja, kamu pun tidak bisa menghindarinya. Namun, aku masih berpikir,
mengapa kamu tidak meninggalkan saja teman-temanmu waktu itu dan ikut jalan
bersamaku. Tapi aku menyadari. Siapa aku? Aku tidak masuk gengmu yang selalu
ada buatmu di saat kamu senang dan sedih. Aku hanya sebatas teman angkatan
kuliah. Kamu memang harus menjaga perasaan teman-temanmu dan tentu saja
mengabaikan perasaanku. I banding banyak tidak ada apa-apanya sama sekali di
matamu. Tapi aku tahu diriku sendiri, aku hanya ada I di dunia ini.
Selanjutnya,
kita janjian untuk merayakan ulang tahun kawan kita di rumahnya. Kamu
menyuruhku untuk pergi duluan, kamu akan menyusul. Sebelum kamu datang kami
menyusun apa-apa saja yang akan kita lakukan besok untuk acara makan-makan.
Mulai dari anggaran hingga menu. Aku sangat bahagia waktu itu, karena kita akan
melewatkan malam bersama, mengucapkan selamat ulang tahun tepat jam I2, dan
makan bersama besok paginya. Tapi kamu menghancurkan semua itu. Hingga besok
paginya kamu tidak ada bersama kami. Aku tidak pernah berharap terhadapmu untuk
membalas segala apa yang telah aku dan kami lakukan terhadapmu. Ingat waktu
kamu ultah di walikota. 2 hari kami persiapkan itu, hingga malam tahun baru
yang macet kami bela-belain mencari sesuatu untukmu. Itu karen kami
menganggapku istimewa. Tapi aku tak pernah tahu apa kaum juga menganggap kami
istimewa. Menganggap kami sebagai teman itu sudah cukup. Waktu di walikota aku
menagis bukan karena aku menyesal tidak bisa menghadirkan gengmu, tapi aku
kecewa mengapa gengmu yang kau istimewakan, kamu utamakan daripada aku, yang
kau jaga perasaannya daripada aku. Justru mereka yang tidak ada satupun di saat
bahagiamu. Tapi aku sedikit terhibur. Kamu pasti akan berpikir.
Ternyata kamu
tidak berpikir, kesalahan itu terjadi lagi. Aku jadi tidak bisa membedakan lagi
itu kesalahan atau kekeliruan. Aku lagi istirahat siang. Smsmu menghambur
mimpiku, “mau temani saya ke rumahnya X?”aku bertanya dalam rangka apa dan kamu
menjawab ada sesuatu yang mau saya ambil. Aku tahu kamu sedang mengurus berkas
S2 dan aku ingin membantu. Aku bersedia pergi, kebetulan aku ingin bersama
sebelum kalian pergi. Lagi-lagi kamu menyuruhku untuk segera berangkat karena
kamu juga sudah akan naik mobil, padahal saat itu aku masih ingin nonton, tapi
aku tidak mau kamu menunggu, jadi aku bergesas naik mobil janjian bertemu di
depan lorong rumah teman kita. Aku menganggap kamu sudah di perjalanan. Setiba
di depan lorong, aku membuka hape dan mendapati smsmu bahwa kamu tidak jadi
jalan, ada masalah yang tidak bisa kamu tinggalkan. Akhirnya kamu meninggalkan
kebingunganku di depan lorong, aku harus berbuat apa, aku mematung di samping
tukang ojek. Aku seperti orang tolol yang menyedihkan. Aku ingin kembali dan
meratapi diriku tapi aku ingin menemui kawanku yang sebentar lagi akan pergi
jauh. Aku memutuskan naik ojek menuju rumah kawanku. Aku hanya membalas sms “z
tidak suka ya beginian”kamu juga membalas dengan sanggahan bahwa kamu tidak
bersalah, kamu tidak menginginkan hal itu. Aku tidak berani lagi membalas
smsmu. Aku marah tapi aku sedikit santai, kayaknya mulai bosan dengan
perlakuanmu kepadaku. Aku merasa perlakuan itu tidak berarti apa-apa untukku
jadi lakukan saja seterusnya. Aku juga berpikir mengapa aku harus menciptakan
suasana tidak baik ketika kita akan terpisah, aku tidak ingin itu terjadi.
Setidaknya pertemuan kita terakhir tidak dalam keadaan tersakiti. Aku sudah
bilang dari awal aku manusia pemaaf. Aku berusaha melihat sisi positif dari
perlakuanmu terhadapku. Mencari kambing hitam untuk pura-pura kusalahkan. Kamu
memang sahabatku “yang selalu ada”di saat aku sakit hati. Jadi aku takkan marah
padamu. Tapi aku tetap sesalkan, mengapa kamu tidak sms aku sja ketika memang
benar-benar kamu sudah ada di atas mobil meskipun itu sudah larut. Yang jelas
jangan sms dulu kalau kamu masih belum menginjakkan kaki di atas mobil dan udah
sementara jalan.
Aku sangat
menyayangimu, aku berterima kasih telah menganggapku teman. Aku hanya menyesali
mengapa setiap kejadian itu harus berkaitan dengan aku. Mengapa bukan
teman-temanmu yang lain. Mengapa harus aku? Terakhir aku ingin nginap di
kamarmu karena tinggal berapa hari lagi kamu akan pergi. Dan aku selalu
memastikan terlebih dahulu sebelum bertindak. Aku mengsmsmu “kamu lagi di
kamarji ntar? Z mau bermalam di situ”kamu dengan yakin mengatakan, “datangmi, z
tidak ke mana-manaji”dan ternyata itu terjadi lagi. Kamu sudah punya janji
dengan temanmu sebelumnya. Aku tak bisa mikir lagi, apa aku yang berlebihan.
Aku terlalu sensitif, atau aku yang sedih karena akan kehilangan lagi orang-orang
terdekatku. Aku pun menyimpulkan aku memang bukan siapa-siapa untukmu. Aku
parasit yang terlalu kekanak-kanakan. Aku ingin menangisi semua itu, tapi
sepertinya kamu terlalu jahat terhadapku bahkan mengirimiku sms macam ini. (I8.03,
6 Mei 20I3)
Assalamu’alaikum…
maaf, tas yakult n casmu adami. Bersama baju2mu yang z pinjam dan km simpan di
kamarq slama ini. Tasq yang ada di kamarmu minta maaf kalo mengganggu buang
saja di luar ya… makassih atas kebaikannya selama ini ya, z memang bukan
sahabat yang baik. Semalam z berencana bawakansendiri k kamarmu semua barangmu
ini, tp skarang z nda beranimi. Terlalu besar salahku sama kamu. Jadi biarmi z
bawa semua rasa bersalahku ini, n semoga kamu tidak mendoakan untuk tidak
lulus. Terima kasih z suka caramu nda papaji juga kohapus nomorku, z ridha.
Oh ya, tas
yakultmu ternyata dia bernoda dikasi kena getahnya pisang sam wita waktu itu,
casmu juga sudah tidak mengisi, z tidak
tahu karena pa. tapi tenangmi, z janji akan ganti itu nanti, doakan sja, cos
kalau skarang biar kamu bunuh z pun z lom punya uang gantikan… maki atau apakan
saja z untuk menebusnya. Maaf, maaf, maaf.. senang menjadi sahabatmu selama
ini.
Mengapa kamu
harus tulis sms seperti itu? Sekecewa-kecewanya aku terhadapmu,
sesakit-sakitanya hatiku, berdoa keburukan untuk orang lain, mudah-mudahan itu
tidak pernah kulakukan. Berpikirlah positif terhadapku, seperti aku terhadapmu.
Mungkin kamu pernah mendengar dari mulutku tentang seseorang yang tidak baik,
tapi sesungguhnya itu hanya bercanda, sejahat itukah aku di matamu? Hummm … apa
yang harus aku lakukan, aku yang tersakiti mengapa malah semua kesalahan itu
ada padaku. Aku sebenarnya ingin kamu tahu, kesalahan-kesalahan itu jangan
terjadi lagi, tapi sepertinya kamu memutuskan persahabatan begitu saja. Ya
Allah ampuni aku. Aku sudah berbuat salah, mungkin smsku yang tidak langsung
padanya (sepupunya) itu membuatnya tersinggung. Aku jadi bingung. Seandainya
kalian yang ada di pihakku, apa yang harus kalian lakukan?
7 Mei 20I3.
Akhirnya aku menjadi orang pemaaf yang menunggu untuk selalu diminta maafnya.
Cek cek cek… iya, aku memaafkanmu Sahabat.



0 komentar:
Posting Komentar