Pages

Mengenai Saya

Foto saya
Universitas Haluoleo adalah kampus di mana Dia Kuliah. Sejak kelulusannya di SMA N 1 Lainea tepatnya di Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara pada tahun 2008, dia langsung melanjutkan perguruan tingginya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yaitu di jurusan Bahasa dan Seni. Pasnya di Program Studi pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra Daerah. Sejak duduk di bangku SMP yaitu SMP N 1 Lainea pada tahu 2002 dia sudah hobi menulis cerpen dan puisi. Menjadi anak bungsu dari lima bersaudara ini tidak terlihat begitu manja seperti anak-anak bungsu lainnya. Ini bisa terlihat dari keaktifan dan kesungguhannya mengurus beberapa organisasi antara lain menjadi pengurus Lingkar Studi Ilmiah Penalaran (LSIP), Semai Intelektual Muda Konawe Selatan (SIM Konsel), UKKI, Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia, dan organisasi eksternal kampus lainnya. Dia sangat hobi jalan-jalan mendatangi tempat yang belum pernah dikenalnya. Dan dia sedang berencana dengan sahabatnya untuk pergi ke suatu tempat yang sangat diimpikannya sejak 2009. Masih rahasia.. hehe.. selamat membaca Blog Putri Anawaingguluri.
Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 08 Mei 2013

Susahnya Jadi Pemaaf

Kamis, 2 Mei 20I3. Waktu itu adalah titik jenuh dari segala kelelahanku untuk menjadi seorang ‘Pemaaf’. Sejak lima tahun yang lalu aku berusaha mengikuti nasehat dari seseorang untuk belajar memaafkan. Ya, aku menghilangkan semua egoku untuk menjadi seperti yang dia inginkan. Akhirnya aku menjadi manusia pemaaf yang semakin lama dianggap semakin tidak berguna, rendah, dan seseorang yang tidak pantas dipertimbangkan persaannya. Walaupun begitu, aku masih ingin menjadi orang yang seperti itu. “Memaafkan adalah memberi sedikit ruang pada rasa benci”, kalimat inilah yang menjadi motivasi untuk tidak menyesali perubahan sifatku.

Awalnya itu sangat berat. Aku yang notabenenya manusia pendendam kini menjadi manusia pemendam rasa sakit yang tak punya ujung. Selalu dan selalu. Mungkin sampai aku tak lagi di bumi ini kata ‘maafkan aku’akan tertuju meski itu di atas nisanku. Perih, sungguh.
Aku pikir itu akan semakin menguatkanku, tapi sesungguhnya itu malah menjatuhkanku bahkan bisa membunuhku. Pertanyaan yang paling aku sesali adalah “Mengapa orang yang melakukan itu adalah kamu?”mengapa bukan orang lain saja, biar marahku beralasan. Aku menjadi orang penyedih ketika itu berulang dan pada orang yang sama. Kamu. Bukan orang lain.
Kamu mengatakan waktu itu adalah kesalahan ke dua, tetapi bagiku itu adalah ke tiga kalinya. Kamu bahkan melupakannya dan aku semakin sakit. Jika kamu melupakannya, atau sengaja lupa, atau memang benar-benar lupa aku akan dengar sabar mengingatkanmu.
Ingatkan waktu kita berkunjung ke rumah kawan kita dalam rangka acara wisuda di sekitaran Benu-benua. Waktu itu kita janjian akan pergi bersama-sama. Kamu menyuruhku untuk naik mobil lebih dulu dan menjemputmu di depan lorong. Dengan senang hati aku melakukan instruksimu. Setelah tiba di depan lorong sosok yang akan kejemput tidak ada. Aku ingin menghentikan mobil dan bergegas menemuimu di kamar tapi kamu malah sms bahwa kamu dan teman-temanmu masih di kamar salah satu orang yang kamu sebut sahabat menunggu salah satu teman yang belum datang. Kamu tidak bisa meninggalkannya karena dia tidak mengetahui rumah tujuan kita. Waktu itu aku punya uang sewa hanya cukup untuk dua kali naik mobil. Pulang dan pergi. Akhirnya niatkan untuk langsung menuju rumah kawan yang punya acara, meskipun aku tidak begitu ingat alamatnya karena baru I kali aku ke rumahnya, tapi apa boleh buat, aku akan berusaha mengingat.
Sepangjang perjalanan aku berpikir. Aku tidak boleh sedih, tidak boleh marah, apalagi tidak memaafkan. Di antara teman-teman itu hanya akulah yang beda sendiri. Aku bukanlah teman sekelas mereka. Aku hanya teman angkatan yang mengemis untuk masuk dalam persahabatan mereka. Mungkin seperti itulah posisiku. Siapa aku? Tak apalah, aku tetap teman mereka. Dengan bermodalkan HP akhirnya aku pun sampai di rumah itu, sedikit terhibur ketika aku berusaha bercanda dengan kawanku, berpura-pura lucu dengan diriku yang jalan sendiri. Karena aku adalah seorang pemaaf maka aksi mendiamkan orang tak aku lakukan pada kamu waktu itu. Aku hanya senyum. Waktu itu aku pulang lebih awal dengan alasan berangkat ke Unaaha, padahal aku memang ingin pulang sendiri. Kamu mungkin menganggap itu hal sepele, hanya bermodalkan kata ‘maaf’dan beberapa penjelasan yang mengibakan di wajahmu. Bagi aku itu luar biasa kutahan. Karena aku bukan bagian dari kalian.
Aku pikir berakhir sampai di situ saja. Aku ingin melupakan semua itu. Aku tak pernah menyangka itu terjadi. Waktu itu kamu mengajakku untuk ke kebi minum es teller. Kita janjian jalan bersama-sama langsung dari kampus. Tapi mendadak beberapa teman pulang ke kemar untuk istirahat, ganti baju, dan kesibukan lainnya. Kamu juga seperti itu. Yang tersisa tinggal aku dan 2 orang kawan laki-laki ang berada di kampus. 2 kawan itu pergi dengan menggunakan motor, karena aku tidak mungkin jalan dengan mereka maka aku berniat ke kemarmu agar sama-sama naik mobil. Karena kamu sudah siap untuk jalan maka saat itu pula kamu mengsms aku untuk segera mengambil mobil dan menjemputmu di depan lorong. Aku pun bergegas pamitan kepada mereka berdua, aku tidak sempat berbicara banyak karena takut mereka menunggu lama, terlebih lagi matahari sangat terik. Aku sudah keluar gerbang dan mengsms kamu tapi kamu tidak menggubris. Aku mengganggap kalian sedang menungguku. Sekitar I0 meter mataku sibuk mencari sosok kalian tapi hingga depan lorong tak satupun orang di sana. Aku meminta supir mobil untuk menhentikan mobil. Aku menelpon kamu. “kita masih tunggu X masih pakaian, kita lagi di lorongnya, bagaimanami?”kata-kata itu seperti meninju jantungku. Aku hanya bertanya berapa lama lagi dank au menjawab tidak tahu, sambil menggerutu pada X. aku mematikan telpon dan menyuruh supir melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan jantungku berdetak kencang, sakit sekali. Mual dan mataku panas. Aku mencari-cari sesuatu di dalam tasku tapi aku tidak menemukan apa yang kucari, aku tidak tahu apa yang kucari. Air mataku jatuh tanpa kusadari. Cepat-cepat kuseka air itu agar tak terlihat penumpang lain. Aku menarik nafas untuk menenagkan pikiranku. Air mataku jatuh tak beralasan. Aku harus marah pada siapa? Hal yang bisa ku lakukan saat itu adalah mengetik sms “Z jengkel deh”dan aku mengirimnya ke pada kawan yang lain. Aku berharap ada sms minta maafmu. Tapi tak ada. aku merasa sendiri di atas mobil itu, ada orang di jalan, seakan bumi ini hanya ada aku Sendiri.
Semakin dekat kebi aku semakin mual, denyut jantungku belum stabil. Dia meronta ingin pecah. Tapi aku tidak mengizinkannya waktu itu. Ketika tiba di kebi aku di sambut dengan teman-teman yang sudah ada di sana. Aku senyum. Aku mencari tempat yang nyaman untuk menhentikan amukan jantungku, aku hampir muntah, tapi karena aku belum makan apa-apa jadi tak ada yang bisa keluar. Aku meminta tolong pada salah satu kawan untuk membelikanku air minum. Di tengah-tengah canda teman-teman aku semakin sedih. Kuteguk air itu dan memaksa air itu kumuntahkan tapi tidak bisa. Tiba-tiba kawan yang kukirimi sms bertanya “kamu jengkel sama siapa?”aku tak menjawab. Aku tidak duduk satu meja dengan mereka.mungkin mereka tahu aku sedang tidak mood, jadi gak ada yang menggubrisku selama beberapa waktu. Aku duduk dengan pikiranku yang melayang-layang. Jantungku masih sakit. Mataku tertuju pad ataman teratai kebi yang dipenuhi bunga-bunga, aku berharap itu bisa menghibur. Tapi itu malah membuatku semakin marah. Kamu dan kawan-kawan gengmu ada di sana sedang foto-foto, tertawa, gembira. Tak ada raut wajah bersalah. Semuanya alami senangnya. Tidak sealami senyumku untuk teman-teman di meja sebelah. Aku menatap wajahmu dalam-dalam, aku mencari persahabatan di sana tapi aku semakin ingin menelanmu hidup-hidup, terlebih lagi kamu sama sekali tidak melihatku. Aku tidak sanggup melihat itu semua. Aku harus pulang. Aku tidak yakin bisa bertahan di sana, mungkin tangisku yang pecah atau mungkin aku pinsan, karena penglihatanku mulai menghitam, jantungku tidak berhenti menendang dakaku. Itu sangat sakit kurasakan. Dengan alasan sakit aku pamit pulang tapa bertemu kamu dan teman-temanmu. Sepanjang jalan pulang kamu meneleponku tapi aku lagi ingin tenang. Aku mengabaikan teleponmu yang hampir I0 kali. Lagi-lagi aku menjadi manusia pemaaf. Aku anggap ini tidak di sengaja, kamu pun tidak bisa menghindarinya. Namun, aku masih berpikir, mengapa kamu tidak meninggalkan saja teman-temanmu waktu itu dan ikut jalan bersamaku. Tapi aku menyadari. Siapa aku? Aku tidak masuk gengmu yang selalu ada buatmu di saat kamu senang dan sedih. Aku hanya sebatas teman angkatan kuliah. Kamu memang harus menjaga perasaan teman-temanmu dan tentu saja mengabaikan perasaanku. I banding banyak tidak ada apa-apanya sama sekali di matamu. Tapi aku tahu diriku sendiri, aku hanya ada I di dunia ini.
Selanjutnya, kita janjian untuk merayakan ulang tahun kawan kita di rumahnya. Kamu menyuruhku untuk pergi duluan, kamu akan menyusul. Sebelum kamu datang kami menyusun apa-apa saja yang akan kita lakukan besok untuk acara makan-makan. Mulai dari anggaran hingga menu. Aku sangat bahagia waktu itu, karena kita akan melewatkan malam bersama, mengucapkan selamat ulang tahun tepat jam I2, dan makan bersama besok paginya. Tapi kamu menghancurkan semua itu. Hingga besok paginya kamu tidak ada bersama kami. Aku tidak pernah berharap terhadapmu untuk membalas segala apa yang telah aku dan kami lakukan terhadapmu. Ingat waktu kamu ultah di walikota. 2 hari kami persiapkan itu, hingga malam tahun baru yang macet kami bela-belain mencari sesuatu untukmu. Itu karen kami menganggapku istimewa. Tapi aku tak pernah tahu apa kaum juga menganggap kami istimewa. Menganggap kami sebagai teman itu sudah cukup. Waktu di walikota aku menagis bukan karena aku menyesal tidak bisa menghadirkan gengmu, tapi aku kecewa mengapa gengmu yang kau istimewakan, kamu utamakan daripada aku, yang kau jaga perasaannya daripada aku. Justru mereka yang tidak ada satupun di saat bahagiamu. Tapi aku sedikit terhibur. Kamu pasti akan berpikir.
Ternyata kamu tidak berpikir, kesalahan itu terjadi lagi. Aku jadi tidak bisa membedakan lagi itu kesalahan atau kekeliruan. Aku lagi istirahat siang. Smsmu menghambur mimpiku, “mau temani saya ke rumahnya X?”aku bertanya dalam rangka apa dan kamu menjawab ada sesuatu yang mau saya ambil. Aku tahu kamu sedang mengurus berkas S2 dan aku ingin membantu. Aku bersedia pergi, kebetulan aku ingin bersama sebelum kalian pergi. Lagi-lagi kamu menyuruhku untuk segera berangkat karena kamu juga sudah akan naik mobil, padahal saat itu aku masih ingin nonton, tapi aku tidak mau kamu menunggu, jadi aku bergesas naik mobil janjian bertemu di depan lorong rumah teman kita. Aku menganggap kamu sudah di perjalanan. Setiba di depan lorong, aku membuka hape dan mendapati smsmu bahwa kamu tidak jadi jalan, ada masalah yang tidak bisa kamu tinggalkan. Akhirnya kamu meninggalkan kebingunganku di depan lorong, aku harus berbuat apa, aku mematung di samping tukang ojek. Aku seperti orang tolol yang menyedihkan. Aku ingin kembali dan meratapi diriku tapi aku ingin menemui kawanku yang sebentar lagi akan pergi jauh. Aku memutuskan naik ojek menuju rumah kawanku. Aku hanya membalas sms “z tidak suka ya beginian”kamu juga membalas dengan sanggahan bahwa kamu tidak bersalah, kamu tidak menginginkan hal itu. Aku tidak berani lagi membalas smsmu. Aku marah tapi aku sedikit santai, kayaknya mulai bosan dengan perlakuanmu kepadaku. Aku merasa perlakuan itu tidak berarti apa-apa untukku jadi lakukan saja seterusnya. Aku juga berpikir mengapa aku harus menciptakan suasana tidak baik ketika kita akan terpisah, aku tidak ingin itu terjadi. Setidaknya pertemuan kita terakhir tidak dalam keadaan tersakiti. Aku sudah bilang dari awal aku manusia pemaaf. Aku berusaha melihat sisi positif dari perlakuanmu terhadapku. Mencari kambing hitam untuk pura-pura kusalahkan. Kamu memang sahabatku “yang selalu ada”di saat aku sakit hati. Jadi aku takkan marah padamu. Tapi aku tetap sesalkan, mengapa kamu tidak sms aku sja ketika memang benar-benar kamu sudah ada di atas mobil meskipun itu sudah larut. Yang jelas jangan sms dulu kalau kamu masih belum menginjakkan kaki di atas mobil dan udah sementara jalan.
Aku sangat menyayangimu, aku berterima kasih telah menganggapku teman. Aku hanya menyesali mengapa setiap kejadian itu harus berkaitan dengan aku. Mengapa bukan teman-temanmu yang lain. Mengapa harus aku? Terakhir aku ingin nginap di kamarmu karena tinggal berapa hari lagi kamu akan pergi. Dan aku selalu memastikan terlebih dahulu sebelum bertindak. Aku mengsmsmu “kamu lagi di kamarji ntar? Z mau bermalam di situ”kamu dengan yakin mengatakan, “datangmi, z tidak ke mana-manaji”dan ternyata itu terjadi lagi. Kamu sudah punya janji dengan temanmu sebelumnya. Aku tak bisa mikir lagi, apa aku yang berlebihan. Aku terlalu sensitif, atau aku yang sedih karena akan kehilangan lagi orang-orang terdekatku. Aku pun menyimpulkan aku memang bukan siapa-siapa untukmu. Aku parasit yang terlalu kekanak-kanakan. Aku ingin menangisi semua itu, tapi sepertinya kamu terlalu jahat terhadapku bahkan mengirimiku sms macam ini. (I8.03, 6 Mei 20I3)
Assalamu’alaikum… maaf, tas yakult n casmu adami. Bersama baju2mu yang z pinjam dan km simpan di kamarq slama ini. Tasq yang ada di kamarmu minta maaf kalo mengganggu buang saja di luar ya… makassih atas kebaikannya selama ini ya, z memang bukan sahabat yang baik. Semalam z berencana bawakansendiri k kamarmu semua barangmu ini, tp skarang z nda beranimi. Terlalu besar salahku sama kamu. Jadi biarmi z bawa semua rasa bersalahku ini, n semoga kamu tidak mendoakan untuk tidak lulus. Terima kasih z suka caramu nda papaji juga kohapus nomorku, z ridha.
Oh ya, tas yakultmu ternyata dia bernoda dikasi kena getahnya pisang sam wita waktu itu, casmu juga sudah tidak mengisi,  z tidak tahu karena pa. tapi tenangmi, z janji akan ganti itu nanti, doakan sja, cos kalau skarang biar kamu bunuh z pun z lom punya uang gantikan… maki atau apakan saja z untuk menebusnya. Maaf, maaf, maaf.. senang menjadi sahabatmu selama ini.
Mengapa kamu harus tulis sms seperti itu? Sekecewa-kecewanya aku terhadapmu, sesakit-sakitanya hatiku, berdoa keburukan untuk orang lain, mudah-mudahan itu tidak pernah kulakukan. Berpikirlah positif terhadapku, seperti aku terhadapmu. Mungkin kamu pernah mendengar dari mulutku tentang seseorang yang tidak baik, tapi sesungguhnya itu hanya bercanda, sejahat itukah aku di matamu? Hummm … apa yang harus aku lakukan, aku yang tersakiti mengapa malah semua kesalahan itu ada padaku. Aku sebenarnya ingin kamu tahu, kesalahan-kesalahan itu jangan terjadi lagi, tapi sepertinya kamu memutuskan persahabatan begitu saja. Ya Allah ampuni aku. Aku sudah berbuat salah, mungkin smsku yang tidak langsung padanya (sepupunya) itu membuatnya tersinggung. Aku jadi bingung. Seandainya kalian yang ada di pihakku, apa yang harus kalian lakukan?
7 Mei 20I3. Akhirnya aku menjadi orang pemaaf yang menunggu untuk selalu diminta maafnya. Cek cek cek… iya, aku memaafkanmu Sahabat.
separador

0 komentar:

Posting Komentar

Followers