Air
langit tak biarkan jalanku kering, pete-pete mulai meriang saat membelah danau
sesaat yang mengisi aspal depan kantor pertahanan kendari,
aku
dengan cemasku sabar mengikuti kemana pun pete-pete itu pergi, karena kuyakin
dia pasti mengantarku pulang.
Ya, aku hampir sampai di depan lorong rumahku.
Tiba-tiba saja jantungku berdegub kencang, kencang sekali dan membuatnya terasa
perih.
Siluet
itu tiba-tiba ada di depan mataku. Kupikir itu hanya halusinasiku saja. Tetapi
ini sungguhan, dia ada disamping jalan depan lorong rumahku.
Dia
pasti akan melihatku dengan posisi dudukku yang sekarang, tepat di depan pintu
masuk pete-pete yang menghadap pas tempat dia berdiri. Cepat-cepat kutundukkan wajah, sibuk dengan
kepura-puraanku membuka tas yang entah apa yang kucari.
Setelah
memastikan pete-peteku sudah melewatinya, mataku buru-buru memperhatikan apa
yang sesungguhnya dia lakukan di sana. Dia hanya menunggu kesempatan untuk
menyeberang.
Jantungku
masih dengan irama yang sama, saat itu pula rasa sedih dan sakit hati itu
kambuh lagi, luka yang belum sembuh kini terbuka lagi dari jahitannya. Kapan
lukaku akan sembuh total.
Pete-peteku
melaju seiring pikirannku yang kembali melihat perjalanan cintaku di masa lalu,
dia pun hilang tertutup jalan yang berkelok-kelok.
Cinta
ini masih ada. Aku masih menanti kapan cinta itu pergi melarikan diri dari
hatiku. Aku jadi takut padanya yang terus menghantuiku.



0 komentar:
Posting Komentar