Hari yang menjenuhkan
Ketika kita kehilangan kata untuk
diucapkan
Ketika tak ada niat lagi yang
terpikirkan
Membuatku sakit kepala yang tak
beralasan
Pesanmu merusak suasana hatiku
Mungkin karena secara tidak sengaja aku
terpikirkan tentang ceritamu dulu
Apakah kau pun mengingatku saat itu
juga?
Ha ha ha…
Lucu, alangkah lucunya cerita hidupku yang
tak pernah bisa kutahu akhirnya
Aku selalu berpikir untuk tidak
mengingatnya lagi
Tapi waktu yang terlewatkan sudah
terlanjur menjadi kenangan
Aku tidak suka itu
Di sisi yang lain aku selalu berharap
purnama ada di setiap malam
Biar aku bisa merasakan saat-saat di
mana aku pernah berkata
“jika kau merindukanku maka tatapilah
bulan di langit”
Saat itu pula aku merindu
Haruskah kututup telinga ketika ada
berita tentangmu?
Haruskah kututup mata ketika ada
sosokmu?
Haruskah kututup mulutku ketika ada
suaramu?
Haruskah kumenghindarimu seumur
hidupku?
Haruskah?
Kemarin kau telah pergi meninggalkan
tanah tempat kita dulu berinjak bersama
Pergi entah kembali atau tidak, aku berharap
kau takkan pernah kembali
Hati-hati di jalan dengan bahasa
daerahmu yang pernah kau ajarkan, cukup kukatakan dalam hati.
Jika kau peka, pasti kau tahu apa kata
hatiku.
“Selamat tinggal” bahkan tak bisa
terucap lagi
Benar kata orang, harga diri adalah
segalanya dan itu sangat mahal harganya
Sejak awal sudah kukatakan, aku benci
kata “Maaf”
Dan hari ini pun aku masih mendengar
itu darimu
Aku tak tahu mengapa aku menjadi sedih
Bukan karena kepergianmu
Tetapi sedih mendengar kata maaf dan
pesan lisanmu yang tak kudengar langsung
Seseram itukah diriku di matamu?
Haruskah kuterima permintaan maafmu
yang berlebihan hingga tercipta kata “sangat” dan “sekali”?
Haruskah kuterima salam darimu?
Pantaskah diriku menerima permintaan
maaf dari ibumu? Itu membuatku merasa bersalah, karena diriku yang bukan
apa-apa bisa membuat seorang ibu meminta maafku, sangat keterlaluan.
Haruskah kudengar lagi kata “maaf”
karena janji yang belum kau tepati?
Aku benci kata “belum” karena itu
mungkin sedikit membuatku berharap lagi
Aku berharap Maret adalah kali terakhir
kumelihatmu
Selamat jalan…
Kuharap rasamu tertinggal di tanah ini
saja
Jangan bawa sedikitpun itu bersamamu
Aku janji takkan menagih janji yang
pernah kau buat
Jangan sedih apalagi merasa bersalah
karena itulah jalan yang telah kita putuskan
Harapan kita dulu, kini punya arahnya
masing-masing
Aku dan hidupku di sini, kau pun
memilikinya sendiri
Allah punya rencana untukku dan
untukmu, jangan khawatir, aku, kamu,dia, mereka, dan kita semua pasti bahagia
Buatlah keajaiban-keajaiban di dalam
usahamu
Terima kasih telah mengajarkanku cara
mencintai kesabaran
Terima kasih telah melatihku untuk
menahan nafsu (marah, sedih, kasar, serakah, pendendam, dll.)
Terima kasih telah mendengar
curhat-curhatku, manjaku, bahkan tangisku
Terima kasih telah menjadi orang yang
kusapa “Kak” untuk waktu singkat
Ha ha ha… mengingat itu semua cukup
membuat dadaku sedikit perih dan juga bahagia, meski hanya sesaat
Buku hijau penuh dengan namamu, biarlah
dia abadi di sana, suatu saat aku akan mendongengkan itu pada keturunanku,
mereka pasti penasaran melihat sosokmu. Maukah kau jika kukenalkan dengan
mereka?
Membayangkan itu, membuat pipiku
melesung
Mungkin terlalu jauh aku berjalan-jalan
ke masa lalu
Oya, selamat yah bisa melanjutkan
pendidikan, semoga diberi kemudahan di setiap urusan dan berakhir dengan
kesuksesan.
Pesanku, jadilah orang yang bijak dalam
menentukan pilihan hidupmu sendiri, jangan biarkan orang lain menjadi penentu
keputusanmu, karena hidupmu adalah milikmu.
Terakhir, sangat sulit buatku menjadi
orang yang dingin terhadapmu selama ini, kau pasti tahu alasannya. Itu juga
pasti tak membuatmu nyaman, aku sangat menyadari itu. Aku sedang mencari
definisi “maaf” dan aku telah menemukannya lewat salah satu film yang membuatku
menyadari bahwa memaafkan adalah memberi sedikit ruang pada rasa benci.



1 komentar:
Hahah
Posting Komentar