Rabu, 08 Mei 2013
Kau Tinggalkan Aku Tanpa Kata
Hari yang menjenuhkan
Ketika kita kehilangan kata untuk
diucapkan
Ketika tak ada niat lagi yang
terpikirkan
Membuatku sakit kepala yang tak
beralasan
Pesanmu merusak suasana hatiku
Mungkin karena secara tidak sengaja aku
terpikirkan tentang ceritamu dulu
Apakah kau pun mengingatku saat itu
juga?
Ha ha ha…
Kebingungan 3I Januari 20I3
Air
langit tak biarkan jalanku kering, pete-pete mulai meriang saat membelah danau
sesaat yang mengisi aspal depan kantor pertahanan kendari,
aku
dengan cemasku sabar mengikuti kemana pun pete-pete itu pergi, karena kuyakin
dia pasti mengantarku pulang.
Susahnya Jadi Pemaaf
Kamis, 2 Mei
20I3. Waktu itu adalah titik jenuh dari segala kelelahanku untuk menjadi
seorang ‘Pemaaf’. Sejak lima tahun yang lalu aku berusaha mengikuti nasehat
dari seseorang untuk belajar memaafkan. Ya, aku menghilangkan semua egoku untuk
menjadi seperti yang dia inginkan. Akhirnya aku menjadi manusia pemaaf yang
semakin lama dianggap semakin tidak berguna, rendah, dan seseorang yang tidak
pantas dipertimbangkan persaannya. Walaupun begitu, aku masih ingin menjadi
orang yang seperti itu. “Memaafkan adalah memberi sedikit ruang pada rasa
benci”, kalimat inilah yang menjadi motivasi untuk tidak menyesali perubahan
sifatku.
Kamis, 24 Januari 2013
Kereta Malam
Mengikuti rasa rindu
pada kampung halamanku
pada ayah yang menunggu
pada ibu yang mengasihiku”
Tubuhku
tiba-tiba saja tersentak ke depan. Kedua kelopak mataku terpaksa bercerai dari
pelukannya. Yang terlihat hanyalah belakang jok mobil yang sudah sangat kumal.
Nyaris saja hidungku mencium besi pembentuk rangka kursi yang tak berbungkus
lagi. Entah berapa usia mobil tumpanganku itu. Kulepaskan earphone yang sejak tadi menyanyikan sajak-sajak yang membuatku
lupa tentang hidup. Seperti biasa “Franky Sahilatua”mengantarku pulang lewat
syairnya yang tak pernah selesai kudengarkan. Aku lupa sejak kapan aku mulai
membenci bait terakhir lagu itu. Mendengarnya seperti mantra yang akan
membawaku pulang untuk selamanya. Dan aku sangat takut.
Selasa, 23 Oktober 2012
Sayang
Sayang,
kapan ke pantai lagi mengukir nama kita?
bermain bola atau bercerita lewat petikan gitarmu.
aku tahu dia menanti ombak
datang bawa cinta dari seberang
sayang,
kubilang tunggu saja
sampan yang mengantarnya akan tiba di pangkuanmu
(berbisik pada karang)
sayang,
kutunggu tawamu di sudut pulau ini
(27
mei 2012)
Kamis, 30 Agustus 2012
Ayah, Ajari Aku Melihat Bulan
Waktu itu Rabu, 22 Agustus 2012. Tepatnya pukul 8 malam. Ayahku baru saja datang dari warung sebelah untuk mengisi pulsa. Setelah masuk rumah Ayah langsung memberi tahuku tentang keadaan bulan malam itu. Aku yang penasaran tentang keadaan bulan yang dimaksud Ayah, cepat-cepat menghampirinya di halaman rumah. Aku memandangi bulan sabit yang tidak ada istimewanya dengan bulan sabit sebelumnya. Tampak biasa saja. Ayah memberiku cermin dan menaruhnya di telapak tanganku yang mencari-cari bayangan bulan di wajah langit.
Ayah : "Ade, coba lihat bulan di langit, sepertinya sudah bulan keempat" sambil bergantian menatap bulan di langit dan menatapi bayangan bulan itu di cermin dengan serius.
Read more...
Ayah : "Ade, coba lihat bulan di langit, sepertinya sudah bulan keempat" sambil bergantian menatap bulan di langit dan menatapi bayangan bulan itu di cermin dengan serius.
Langganan:
Komentar (Atom)





